Pujimin Kapsul Tangerang "Harga Terjangkau, Halal, dan Thoyyib"

Pujimin Kapsul Tangerang "Harga Terjangkau, Halal, dan Thoyyib"

Minggu, 15 Mei 2011

IKAN GABUS NAIKKAN KADAR ALBUMIN


Cocok Dikonsumsi Penderita Ginjal, TBC, dan HIV/AIDS

JARANG orang tahu kalau ikan gabus yang baunya sangat amis, merupakan penghasil albumin yang dibutuhkan tubuh. Manfaat lainnya untuk kesehatan perlu diketahui.
IKAN gabus atau dalam bahasa ilmiahnya disebut channa striata merupakan sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Tak sedikit pula yang hidupnya di rawa-rawa. Rupanya memang jelek. Baunya juga amis. Ini yang membuat tidak semua orang menyukainya. Padahal, dari segi rasa, ikan ini sangatlah lezat jika dikonsumsi. Tak sulit untuk memperoleh ikan ini, karena mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, bahkan pasar-pasar modern.
Guru besar gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Prof Dr dr Nurpudji A Taslim, MPH, SpGK, mengatakan, belum banyak orang yang menjadikan ikan gabus sebagai lauk favorit. Padahal, selain rasanya yang lezat, ikan gabus juga memiliki manfaat yang sangat besar untuk kesehatan.
"Sejak tahun 1994, kami melakukan penelitian tentang manfaat dan kandungan albumin dalam ikan gabus. Ternyata manfaatnya sangat tinggi, membuat ikan gabus dapat digunakan untuk membantu mempercepat penyembuhan beragam penyakit," kata Nurpudji, Senin, 25 Januari saat ditemui di Pusat Kajian Penelitian (PKP) Unhas.
Nurpudji bersama rekan-rekannya di Universitas Hasanudin berhasil membuktikan kandungan albumin di dalam ikan gabus itu. "Ide penelitian ikan gabus ini berawal dari kebiasaan masyarakat Sulawesi Selatan di beberapa daerah yang selalu memberikan menu ikan gabus jika ada yang sakit. Katanya, mereka yakin kalau ikan gabus ada manfaatnya namun tak bisa membuktikan secara ilmiah," ungkap Nurpudji.
Ia pun bersama rekan-rekannya melakukan uji coba dengan memberikan masakan ikan gabus kepada pasien di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar. Setelah pasien mengonsumsi ikan gabus, efeknya luar biasa.
Kadar albumin pasien meningkat sehingga kesehatannya membaik lebih cepat. Akan tetapi, membuat pihak rumah sakit merasa kesulitan karena penyediaannya yang rumit, harus dibuat dalam bentuk bubuk dulu.
Selain alasan penyajiannya yang rumit, komposisinya juga tidak pas. Akhirnya, Kepala Bagian Gizi Fakultas Kedokteran ini bersama rekan-rekannya mengakali dengan membuat ekstrak ikan gabus dalam bentuk cairan yang nantinya dimasukkan melalui pipa saluran makanan.
"Ya, memang cara ini berhasil meningkatkan kadar albumin, akan tetapi banyak pasien yang tetap menolak karena baunya yang amis, sehingga membuat mereka mual dan ingin muntah. Lagi-lagi, kami merasa ini juga belum efektif," kata Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti.
Nurpudji dan rekan-rekannya terus melakukan penelitian tentang cara efektif yang harus diambil. Akhirnya dia dan rekan-rekannya menemukan cara yang dianggap jauh lebih efektif. Ikan gabus dibuat ekstrak dalam bentuk bubuk lalu dimasukkan ke dalam kapsul.
Hasil penelitian yang dilakukan sejak 1994 itu, lalu didaftarkan permohonan patennya dengan nomor P00200600144, berjudul produk konsentrat protein ikan gabus. Departemen Kehakiman mengumumkannya pada 8 Maret 2007 dengan nomor publikasi 047.137.A.
Beliau mengaku cara ini sudah terbukti. Pemberian kapsul kepada pasien jauh lebih mudah. Tak ada yang menolak karena seperti layaknya minum obat biasa. Juga, tak perlu repot memasak dan tak perlu takut dosisnya kurang. Ia menambahkan bahwa kapsul memudahkan masyarakat yang sakit dan kurang mampu. "Selain untuk menyembuhkan penyakit, kami berusaha memberikan pelayanan yang murah kepada masyarakat yang kurang mampu dengan kualitas yang baik," katanya.
Ia berharap dengan hadirnya kapsul itu bisa menolong dan membantu pasien. Kapsul ekstrak ikan gabus pun dikirim ke berbagai posyandu, puskesmas, dan rumah sakit di beberapa daerah di Indonesia. Selain untuk membantu pasien yang tak mampu, juga dalam rangka meyakinkan para dokter bahwa kapsul tersebut memang benar-benar dapat digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit. Terbukti, pasien dengan luka habis operasi, sirosis hati, ginjal, luka yang besar, dan TBC, bisa sembuh lebih cepat.
Berkisar 10 sampai 14 hari kadar albumin pasien bisa naik 0,6 sampai 0,8. Untuk penderita HIV/AIDS, bahkan kadar albuminnya juga bisa naik sehingga berat badan si penderita naik perlahan-lahan. 

disadur dari : FAJAR Makassar Online

MENGHEMAT SEPULUH PERSEN BIAYA INFUS


Penemu Suplemen Ikan Gabus, Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti Taslim, MPH, SpGK
Menghemat Sepuluh Persen Biaya Infus
Oleh: Aswad Syam

INFUS pasien yang kadar albuminnya rendah, menelan biaya yang tidak sedikit yakni sekitar Rp1,4 juta. Karenanya, jagalah, agar kadar albumin normal pada kisaran antara 3,5 – 4,5. Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti, mengaku sangat perihatin atas hal tersebut. Dia pun berupaya menemukan bahan lain untuk meningkatkan kadar albumin, dengan biaya yang tidak mencekik leher. Ikan gabus pun menjadi pilihan, karena mudah didapat, dan harganya juga murah.
PADA ujicoba pertama, ahli gizi itu memberikan masakan ikan gabus kepada pasien di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Berhasil. Kadar albumin pasien meningkat. Kini, ekstrak ikan gabus telah dikemas dalam bentuk kapsul, dengan harga Rp 7000 perkapsul.
Dua kapsul diminum tiga kali sehari. Sama dengan enam kapsul, sama dengan Rp 42 ribu setiap hari. Kalau kapsul harus diminum selama sepuluh hari, jumlah seluruh biaya adalah 10 x Rp 42 ribu atau sama dengan Rp 420 ribu. Bandingkan dengan biaya infus yang sebesar Rp 4,2 juta. Suprise, kita bisa menghemat 90 persen.
Dengan nomor publikasi 047.137.A, tertanggal 8 Maret 2008, Departemen Kehakiman telah mengumumkan permohonan paten yang telah didaftarkan Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti dengan nomor P00200600144, dengan judul produk Konsentrat Protein Ikan Gabus.
Untuk lebih menguji kehandalan suplemen makanan itu, kapsul tersebut dikirim Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti ke rekan-rekan dokter di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan sebuah pesan, “Berikan kepada pasien gula, patah tulang, TBC, stroke dan gizi buruk”. Hasilnya? Pasien lebih cepat sembuh, kondisi juga menjadi lebih baik.
Bagi sebagian orang, ikan gabus tak masuk hitungan lauk favorit. Untuk nelayan pun ikan gabus dianggap kurang bernilai ekonomis. Namun, di tangan Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti, ikan ini memiliki nilai tambah.
Ikan yang tak disukai karena baunya yang amis ini, dia “sulap” menjadi suplemen makanan yang berfungsi menjaga metabolisme tubuh, menaikkan kadar albumin, dan mempercepat pemulihan kesehatan. Ikan gabus diracik sedemikian rupa, dibuat serbuk, kemudian dimasukkan dalam kapsul. Bau amis ikan yang tak disukai itu pun hilang dan tak terasa lagi.
Hampir semua pasien berkadar albumin rendah yang diberi suplemen dari ikan gabus ini, kadar albuminnya naik lebih cepat ketimbang pemberian albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit lain seperti TB, diabetes, patah tulang, stroke, hingga HIV/AIDS, kondisinya bisa lebih baik dengan pemberian kapsul ikan gabus.
Pada anak dengan gizi buruk dan berat badannya kurang, pemberian biskuit dari bubuk ikan gabus, membuat berat badan mereka naik minimal 1 kilogram perbulan. Maka, bersama kader posyandu, petugas puskesmas dan rumah sakit yang merawat anak bergizi buruk, Nurpudji memberikan biskuit ikan gabus secara rutin.
Ibu hamil kurang gizi juga diberi kapsul ikan gabus untuk asupan protein dan zat besi yang diperlukan selama masa kehamilan agar bayi yang dilahirkan lebih sehat. Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti memandang, albumin dalam tubuh sebagai indikasi mortalitas, morbiditas, dan metabolisme tubuh. Albumin juga berfungsi mempertahankan regulasi cairan dalam tubuh.
Bila kadarnya rendah, protein yang masuk ke dalam tubuh akan pecah, dan tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan, penyerapan obat-obatan yang seharusnya berfungsi menyembuhkan, tak akan maksimal.
Oleh karena itu, pasien berkadar albumin rendah diberi infus untuk menaikkan kadar albuminnya. Namun, infus itu biayanya mahal, Rp 1,4 juta setiap pemberian. Ini pun minimal harus diberikan tiga kali. Untuk pasien tak mampu, ini memberatkan.
Kondisi tersebut membuat ibu tiga anak ini berusaha mencari bahan lain untuk menaikkan kadar albumin dengan harga terjangkau. Ahli gizi yang melakukan banyak penelitian ini pun sampai pada ikan gabus yang mengandung kadar albumin tinggi. Ikan gabus dipilih juga karena relatif mudah didapat dan harganya murah.
Dalam percobaan pertama, Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti memberi masakan ikan gabus kepada pasien di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan. Ikan gabus dalam bentuk makanan ini berhasil menaikkan kadar albumin. Tetapi, jumlah petugas dapur di rumah sakit kurang. Kalaupun ada, mereka kewalahan meracik ikan gabus, apalagi dengan komposisi yang dianjurkan.
“Saya mencoba membuat cairan, lalu dimasukkan melalui selang makanan. Ini pun berhasil, tetapi banyak pasien yang menolak baunya,” tutur Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti.
Dia lalu mencari cara agar pemberian ikan gabus bisa lebih mudah. Bersama beberapa rekannya, Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti melakukan percobaan membuat ekstrak ikan gabus dan memasukkannya dalam kapsul. Cara ini berhasil karena pemberiannya lebih mudah, dan pasien tak lagi menolak baunya.
Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti sebenarnya meneliti ikan gabus sejak 1994. Pada 2003, Nurpudji mulai memberikan cairan ikan gabus melalui selang makanan pada pasien di Rumah Sakit Wahidin. Tahun 2004-2005, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini membuat ikan gabus dalam bentuk kapsul.
Untuk meyakinkan dan membuktikan suplemen makanan yang dibuat itu bisa diterima di mana-mana, Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti mengirimkan kapsul tersebut kepada rekan dokter di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta.
“Saya minta mereka memberikannya kepada pasien dengan beragam penyakit seperti luka patah tulang, stroke, gula, TB, atau gizi buruk. Hasilnya, pemberian suplemen makanan ini membuat pasien sembuh lebih cepat, dan kondisinya menjadi lebih baik,” paparnya. (asw)

sumber:

SERTIFIKAT ‘POM’ PUJIMIN KAPSUL ALBUMIN